2012

Apa yang akan kita raih. Perjuangkan tahun ini kawans?

“Buatlah coretan kecil. Wujudkan coretan kecil itu semaksimal usaha”

Selamat Tahun Baru. Maaf telat. Happy Year 2012. Good for us :D                                                                                                               Djogja.11;51-31/11

iTunes Festival 2011

Enjoy the video.:-D

Adele – Lovesong (The Cure cover) Itunes Festiv…, posted with vodpod

Money Can’t buy me love.

Membaca judul tulisan sederhana diatas, pastilah otak kita kan me-retrieve pada lagu Beatles yang populer itu. Bukan! Tulisan ini bukan membahas lagu, apalagi menyaingin tulisan terahir Bung Oki yang merajuk itu. Tidak sama sekali. Hanya menyegarkan ingatan yang mulai karatan akan  hal yang seringkali bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari kita. UANG.

Era modern sekarang uang bukan hanya sebagai alat pembayar tetapi telah menjadi mastermind of culture living. Yup! bagaimana uang dapat mengubah “cicak” menjadi “buaya”. Hati terbesit ketika tak lama ini menerima telepon yang membuat otak malas saya dalam menulis setelah sekian lama tiba-tiba seperti ditembak otak belakang saya.  Berikut percakapan sederhana dua manusia muda:

Johan:  “Eoi! lama gak ketemu niih ma lo Jon! pa kabar lo? “

Jonny: “baek, lo ndiri gimana han? gimana gawe? “

Johan: “baik. eh! gua dengar lo kerja di pulau seberang sana, bener gk tuh? “

Jonny: “iya dong!masih hijau gua mah, baru jalan dua tahun..”

Johan: “oo, lumayan hijau yah! “(senyum simpul)

Jonny : “nah lo ndiri gimana? masih gawe dikota ini? pindah dong!”

Johan: “yoii! pindah? ngikut jejak lo? pindah ke pulau seberang, ladang duit”

Jonny: “yoi boii! kerja 18jam sehari duit gede. Gua mah dulu jg males kek lo, tapi duitnye boii. Seger! ” (tertawa puas)

Johan : ” iya gua jalani dulu gawe yg sekarang. cocok gua pindah..”

Jonny: ” dah gak pake cocok2an. Langsung move on boii!..”

Johan: ” eiits! tar dulu boii. makan aja kudu cocok. Ngepas, kerja juga dong..”

Jonny: ” srah lo dah. gua cuma bilang: DUIT ITU SEGER! “

Johan: ” hahaha! “

Percakapan diatas itu tentu sering kita dapati dalam keseharian kita. Entah dimana waktu. Entah dimana ruangnya. Percakapan diatas melakoni satu lakon: UANG. Nah! bagaimana anda sekalian menanggapi bila ini terjadi dalam hidup anda? Bila anda digoda oleh uang? posisi berkelas? Tanpa anda tahu anda cocok atau ngepas dengan godaan tersebut.

Orang bekerja karena butuh kegiatan. Ada ruang yang terisi didalamnya. Suasana baru. Kenalan baru. Petualangan baru. Dan uang didalamnya merupakan “bonus” dari itu semua. Tapi perubahan diri, perubahan ruang yang mengakhiri pada petualangan hidup yang membuat seseorang menjadi MAN or WOMAN .

Jadi apapun profesi anda, status anda, kedudukan anda. Berapapun uang didalam dompet anda. Bekerjalah dengan hati, penuh cinta. Klise banget yah! Saya tidak sedang memotivasi karena “ your deep heart is your motivation “ begitu orang bijak berujar. Pindah lah, move on better job carrier coz you’ve love it. Jangan jadikan diri anda robot! Jangan rendahkan martabat demi uang. Tapi tinggikan martabat melalui karya. Lihatlah betapa Picasso dikagumi sebagai pelukis jenius yang pernah lahir dimuka bumi. Lihatlah betapa Hendrix digilai sebagai titisan dewa dalam mainkan gitar. Lihatlah betapa Ong dikenang sebagai pribadi yang menyenangkan semua pribadi. Kehidupan mereka memang tidak “lengkap” tapi karya lah yang membuat mereka lengkap. Jadi bila anda ingin pindah kerja. Karir. Buatlah sebuah karya dalam karir anda. Uang hanya bonus dari semuanya. Bila anda seorang yang besar, pastilah akan menjadi bonus besar. Sekedar info, dalam menulis ini saya pun telah dikontak kantor lain tuk posisi baru. Karir baru. Nah loh!

Tapi satu pesan saya frens: Make A Materpiece. And Money Can’t Buy Me Love…

I may not have a lot to give but what I got I’ll give to you

Tell me that you want the kind of thing that money just can’t buy

I don’t care too much for money, money can’t buy me love

Can’t buy me love, love

Can’t buy me love, no no no, no

:-D

Ketika mereka mati esok hari…

Bila ini hari terakhir anda dimuka bumi hidup, apa yang akan anda lakukan? Banyak sedekah? Datangi orang terkasih beri ucapan dan kecupan terakhir? Atau lebih banyak merenung, meratapi dosa-dosa selama ini? Banyak ide yang tercetus dan segera dilakukan bila itu terjadi. Tapi siapa yang sangka bila hari ini, esok, ataupun lusa “Last Day” kita. No one knows it!

Setelah berkelabat dengan kertas-kertas, pulpen dan interaksi dengan orang-orang yang baru. Baru kinilah saya menyempatkan menggoreskan kursor komputer untuk mengaktualisasikan ide-ide dikepala yang telah terbebani rutinitas padat itu. Memikirkan diri sendiri itu hampir semua manusia bisa. Tapi ketika memikirkan yang “lain” belum tentu semua bisa. Paradoks manusia.

Manusia terlahir sebgai pemimpin di muka bumi. Makhluk sosial. Begitu penjelasaan dalam kitab-kitab suci dan buku-buku semasa “era putih abu-abu”. Realitas bicara tidak seperti itu demikian halnya, bahwa kita serignkali meminggirkan bahkan melupakan “yang lain” tadi. Kadangkala kita asik sendiri menimbun kekayaan hingga bermasygul ria dengan “dunia” kita. Pemakaian “yang lain” disini untuk membedakan diri kita (umunya) dengan diluar kita (yang lain). Saya  mengambil beberapa perspektif  untuk menarik benang merahnya.

1. Bencana

Memang betul semua bencana yang terjadi berasal dari luar akal kita. Beberapa menafsirkan itu “kehendak” Tuhan. Biarkan Tuhan bekerja dgn cara-Nya kita coba mempelajari. Bukankah tugas utama manusia belajar?

Penggundulan hutan, pengeboran minyak lepas pantai besar-besaran. Sebagian dari beberapa asal musabab tejadi bncana yang terakhir Tsunami Jepang, lebih dr 8 SR. Nah! kita berlomba-lomba menjadi yang terbaik, apakah kita sadar bahwa bila “mereka” mati esok apa dampak untuk kita.

Tentu tak pernah terpikirkan ketika nafsu sudah didepan logika. Kemudian gembar gembor Global Warming, sudahkan kita ambil tindakan nyata? Kalau belum jangan sok action lah!  Kampanye Earth Hour kemarin bagus untuk mengkampanyekan penghematan energi itu pesan moralnya. Alangkah lebih baik dan bijaknya bila tiap hari tanpa Earth Hour kita tetap hemat energi. Tentu lebih berguna bagi anak cucu yang akan datang. Bayangkan bila energi tiba-tiba mati. Gelap dunia!

2. Perang

Mortir melesat kencang bak petir. Peluru ditebar dimuka bumi dengan angkuh. Gas beracun menari  seakan mengejek manusia yang lemah.  Perang terjadi dengan beberapa sebab dan yang paling dominan  ialah senjata! Yup dengan senjata lah perang makin dikibarkan. Akhir-akhir ini mata sakit melihat televisi.  Berita perang melulu! Bosan. Terakhir saya melihat berita perang Irak. Kini disuguhi Perang Libya. Apa yang dicari dari perang? Kemenangan semu. Kemenangan yang tidak kekal, hanya sementara. Lihatlah Uni Soviet yang harus merelakan tanah-tanah jajahan tidak “sepaket” lagi dengan mereka. Lihatlah perang Vietnam, sisakan trauma dalam. Afghanistan tak berkesudahan bak kisah dalam dongeng. Irak tidak berkesan lagi. Terakhir Libya, ada yang menganggap “perang suci” bagaimana bisa dikatakan perang suci bila anak-anak, orangtua renta, para wanita jadi korban perang tadi? Pihak lain menganggap inilah saatnya “dia” turun!  Bagaimana bisa ide perseorangan bahkan sekelompok umat dijadikan rujukan ide seluruh umat manusia dimuka bumi? Penyeragaman pendapat. Hal yang ditentang oleh post-modernisme tentunya.

Pernah kah terbayang oleh para jenderal-jenderal itu bila yang mereka kejar itu hanyalah semu semata. Tak ada kemenangan abadi dalamnya. Siapa yang akan menafkahi bila wanita-wanita itu kehilangan suami mereka? Siapa yang akan merawat hingga dewasa bayi-bayi itu saat orangtua mereka terbujur kaku disamping mereka? Siapa yang akan mengganti semua infrastruktur bahkan siapa yang sanggup merehabilitas jiwa mereka yang tersakiti oleh perang keji tersebut? Nafsu diatas logika. Megalomaniac.

3.  Televisi

“Telah pepat imajinasi dalam kotak 14 inchi…” [Mars Penyembah Berhala - Melancholic Bitch]

Ya, elektronik satu ini semacam dualisme fungsional. Satu sisi penyebar informasi yang komunikatif. Satu sisi sebagai penyebar virus massal.  Melalaui kotak 14 inchi ini kita dapat melihat, mengamati belahan dunia lain dari tempat kita berada kini. Tapi kotak ini juga kita dibentuk menjadi “robot” ya robot yang hanya menjalankan rutinitas sehari-hari kemudian tanpa sadar kita telah termakan waktu yang kejam tanpa bekas hidup yang berarti. Logika mati. Rasa mati. Hidup pun mati.Yup, ia mematikan imajinasi kita.

Manusia hidup lewat imajinasi, dengan itulah kita meraih apa yang diimpikan. Teraktualisasikan dalam “passionate” ktia berkarya untuk meraih mimpi tersebut.  “Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi” begitu salah petikan lirik yang saya dengar. Inspiratif tentunya. Nah bila televisi tadi telah mengambil jiwa kita, logika kita apa kita masih pantas disebut manusia? Bila kita dengan seenaknya mengancam, mengkebiri  bahkan mematikan hidup sesorang persis yang diajarkan televisi, dimana esensi manusia nya?Ketika televisi berhasil merebut singgasana terbesar manusia yakni logika, ia sesungguhnya sedang mentransformasi logika menjadi nafsu. Logika mati. Nafsu lahir. Berakhirlah era manusia.

Tiga plot perspektif diatas berbicara tentang alam, manusia, hingga logika. Ya dalam keadaan nyaman, nikmat, senantiasa kita lupa terhadap ketiga hal pokok ini.  Bila terjadi dampak dari kematian ini barulah kita kasak kusuk busuk nan kosong. Retorika tanpa aksi nyata. Tsunami Jepang hingga Kampanye Global Warming sejatinya makin menyadarkan kita bahwa kita tidak hidup sendiri dimuka bumi ini, masih ada “yang lain”. Sepatutnya lah kita berbagi ruang dengan “mereka”.  Saat nafsu dalam barisan terdepan logika terpinggirkan itulah yang terjadi dalam dunia peperangan. Tiada rasa disana.  Tebar kekuatan semu. Vietnam hingga Irak seharusnya menjadi contoh bahwa perang bukanlah solusi terbaik dalam menyelesaikan sengketa, hingga paling update Libya. Tidakkah kita cukup melihat anak – anak tumbuh tanpa orangtua, para wanita yang depresi meratapi kematian suami mereka. Posisikan itu saudara kita,adik kita, bahkan bila itu bagian terdekat dalam hidup kita. Tentu tak pernah terjadi perang. Penyeragan informasi, penyeragaman sikap, penyeragaman logika merupakan visi utama dari kenegatifan televisi. Ia mematikan logika. Memandulkan imajinasi.  Manusia tidak mengenal hitam-putih, gunung, laut bahkan diri mereka sendiri. Hilang jati diri. Itulah misi paling faktual dari televisi. Filterisasi program televisi merupakan tindakan yang efektif untuk mengurangi efek gas beracun massal ini.

Sebelum  terlambat marilah kita kencangkan niat dalam sanubari bahwa kita manusia sejatinya makhluk berakal yang memiliki rasa dengan imajinasi tak terbatas. Bak jalan panjang dengan pemandangan terhampar luas  tiada batas. Karena bila tidak, jangan pernah bermimpi esok hari…

Danko,

:)

Across The Universe

Words are flowing out like endless rain into a paper cup,
They slither while they pass, they slip away across the universe
Pools of sorrow, waves of joy are drifting through my open mind,
Possessing and caressing me.
Jai guru de va om

Nothing’s gonna change my world,
Nothing’s gonna change my world.

Images of broken light which dance before me like a million eyes,
That call me on and on across the universe,
Thoughts meander like a restless wind inside a letter box they
Tumble blindly as they make their way
Across the universe
Jai guru de va om

Nothing’s gonna change my world,
Nothing’s gonna change my world.

Sounds of laughter shades of earth are ringing
Through my open views inviting and inciting me
Limitless undying love which shines around me like a
Million suns, it calls me on and on
Across the universe
Jai guru de va om

Nothing’s gonna change my world,
Nothing’s gonna change my world.

(Lennon/McCartney)

Optimisme dalam hidup

“ Ah capek! Dah semuanya gw lakuin tetep aja begini- begini! “

Ungkapan yang sering kita dengar dari setiap insan muda ditanah air dengan atau tanpa sadar. Kaum urban (younger) biasa lebih peka (sensitif) dalam hal-hal yang seperti ini. Mereka ibarat bom atom yang dapat diledakkan sewaktu-waktu. Ada ungkapan prokem barat ”The younger is winner but full of shits” :D . Nah berangkat dari hal yang pernah kita alami, dengar, lihat tersebut. Bagaimana seharusnya program otak itu dirubah.

Hidup itu tidak linier. Hukum yang harus kita tegakkan dalam keseharian kita. Hidup yang dijalani ini tidak semua nya harus sesuai rencana. Tidak selalu begitu. Setidaknya dalam ketidaksinkronan rencana itu kita akan menemukan hal – hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Longway to nowhere, ungkapan barat prokem juga, selain tentunya judul album Teenage Death Star, indie band rock bandung. Dengan kita membebaskan alam pikiran kita dari suatu hukum keabsolutan sedangkan praktek dari hidup itu sendiri bersifat absurd maka kita akan lebih ikhlas dan siap menerima pil pahit dalam hidup ini. Tangguh manifesto dari runtutan diatas. Pada karya (Absurditas) yang disebut-sebut sebagai salah satu karya pemikiran yang elegan hingga era ini, Albert Camus menyatakan bahwa keabsurditas itu hal yang pokok dan massive dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa menghindar dari hal-hal yang bersifat absurd, bahwa inti pokoknya hidup dan beserta tinta-tinta perjalanannya mengandung hal –hal yang tidak akan selalu berkesesuain dengan logika semata, absurd konjungsi yang beliau pakai. Diantara pintu-pintu kehidupan inilah perlunya dialektika, penekanan pola berpikir yang diusung Tan Malaka. Hidup tidaklah linier atas dasar itu kita perlu menumbuhkan sikap ,pola pikir begini:

”Mantaf! Gak flat nih hidup gue! “

Syukuri yang ada. Bersyukur itu penting frens! Syukur itu dekat akan rasa ikhlas, beberapa darwis mengungkapkan itu. Rumi mengibaratkan syukur dengan anekdot begini:

Malaikat bebas karena pngetahuannya
Binatang bebas karena kebodohannya
Di antara keduanya manusia yang tetap berjuang.

Secara harfiah memang kita wajib berjuang menurut syair diatas. Makna tersiratnya kita diharuskan bersyukur atas apa yang kita jalani sekarang. Klise memang kata ini, tetapi dalam menatap kedepan menjadi sebuah obat ampuh bukan lagi klise semata. Saya, anda dan yang lain pasti pernah mengalami keadaan dimana kita berada dalam point terendah dalam hidup ini. Breakdown point orang ekonomi biasa katakan. Pada momen ini kita merasa hidup telah hancur, hampa, frustasi. Saat kita harus meng-gas-kan lagi perjalanan hidup ini maka ditengah-tengah perjalanan “kereta baru” itu selanjutnya kita mulai berikrar: “Bersyukur gw, masih bisa lanjut!” Nah statement seperti ini bermakna kita telah mulai menata kehidupan baru dengan obat klise tadi. Memang peningkatan hidup perlu, dalam prosesnya itu diharuskan. Hanya saja jangan sampai ada unsur paksa disini. Kawan saya pernah berujar:

“Kalo gw gak habisiin, sayang (nasi) mubazir. Kalo gw makan jadi penyakit…”

Sederhana, menohok, dan penuh makna statement beliau. Pada konteks ini perlu hadirnya suatu keikhlasan tadi yang bertetangga erat dengan syukur tadi. Jadi, apapun yang terjadi pada fase lalu, sekarang dan akan datang dalam bab kehidupan kita coba kita goreskan tinta ini sekali saja, tapi akan berbekas kekal.

Be rock n’ roll don’t too pop! Lagi-lagi ungkapan slank dari negeri seberang. Saya dapatkan ini dari sebuah film daratan Ratu Elizabeth. Sebelumnya, kalau diantara kita ada yang berujar:

“ Barat mulu referensinya, mana timurnya? ” :P

Ini hanya sebuah kebetulan dalam penulisan “mind sharing” ini, bukan suatu yang di plot skenarionya. :D Lanjut! Ungkapan diatas bagi sebagian kita yang hidup di daratan timur pada peta dunia memang terkesan kasar, urakan, pointless menurut beberapa kaum urban. Sebenarnya ungkapan diatas memaknai hidup ini dengan sindiran yang “nonjok” (koskat kini-urban) yang dikemas dengan bahasa slank. Dalam perjalanan hidup ini kita biasanya sering teringat akan kenangan masa lalu yang indah, meratapi kesusahan yang sekarang. Pada memor yang mengasyikkan dari buku Sindhunata, Mbok Amat langsung “menikam” sang penulis dengan statement beliau yang polos:

“ wah nak! Sapa yang mau susah?. Tapi yang ada harus dicukup-cukupkan (sambil ketawa)…”

Membaca ini tersayat nurani saya dan seperti ditembak kepala belakang! Wanita tua dari Yogya tepatnya warga Kali Serang, Kulonprogro. Penuturan yang polos, in direct, dan tajam. Itu yang coba sang penulis ingin katakan kepada sang pembacanya. Potret wanita biasa yang dijadikan cermin untuk kehidupan kita agar kita tidak mellow dalam hidup dan jadi tidak biasa. Beliau berusaha tegar akan terjalnya batu karang hidupnya (dengan ketawa) sambil tetap menggendong batu-batu besar dari kali tersebut untuk menyambung hidupnya. Pada titik tertentu kita pasti akan menangis sebagai luapan emosional negatif kita. Disinilah jargon diatas tadi berafiliasi dalam kultur timur. Semua yang terjadi, dan akan terjadi sebenarnya telah di “masak” dalam alam bawah sadar kita. Keyakinan ini yang dikibarkan Psikoanalisis dengan Sigmund Freud sang kreator ulungnya. Kenangan masa lampau, meratapi hidup sekarang, dan berencana akan masa depan itu semua terekam, terstimulan, terproses pada alam bawah sadar yang kemudian teraktualisasikan pada alam nyata. Visualisasi pencarian jiwa juga diabadikan juga oleh I. Bregmann dalam Seventh Seal. Lakon pria yang protagonist berakhir tragis.

Menjadi rock n’ roll bukan dengan memakai baju band-band luar atau celana jeans ketat pensil yang sedang in, tetapi mempunyai sikap dan pola pikir yang kreatif, non linier, dan tangguh. Itu pointnya! Pop dimaksudkan jangan lah kita terlalu berjalan dalam suatu hukum absolut dan keteraturan, ingat hidup tidak linier! Dengan panji-panji western life ini kita akan bermentalkan baja kualitas terbaik (kualitas super!). Yang dengan sendirinya menggiring kita bahwa jargon ala barat dengan potret Mbok Amat didalamnya berkesusaian dengan fase kehidupan yang telah dan akan terjalani selanjutnya. Dan pada akhirnya kita akan berujar:

“ YES! Gw settle ama hidup gw sekarang! “

:::
YES ialah tulisan yang dillihat oleh Lennon pada atap langit sebuah galeri sebelum akhirnya berkenalan dan menikahi Yoko Ono. YES = OPTIMISME. :D

SENPI – SENJATA API

Senpi, senjata api mulai marak keberadaannya saat memasuki tahun akhir 80′an. Tindak kriminalitas yg meningkat menjadi alasan kuat para pemakainya; perampokan, penjambretan, dll. Akhir2 ini perampokan bermodus senpi pun marak kembali. Demi melindungi dir, nyawa, tak sedikit masyarakat yg ambil bagian dari jenis senjata ini. Atas meningkatnya kebutuhan tersebut, kami menyediakan jenis-jenis senjata api-senpi yg berkualitas no.1!! Kami tidak menjual KW-KW’an! SEMUA SENPI YG KAMI BERLISENSI DAN ORIGINAL. Berikut jenis senpi yg ada pd toko kami:

http://www.facebook.com/album.php?aid=68575&id=1549765842&ref=mf

SILAKAN KUNJUNGI, MINAT DAPAT MENGHUBUNGI KAMI. MERCY! :)

The Concert for Bangladesh

Bangladesh is known as the People’s Republic of Bangladesh. The historical country with many different cultures, people, included regions too. There are buddhist, hindu also Islam region. Bangladesh was formed by the kingdom of gangaridai around 7th century BC. The kingdom which later united with Bihar, Nanda, Mauryan, and Sunga Empires. In anarchy period exactly after it passed, Buddihst ruled the region for four hundred years, followed by newly regoin Hindu. Althought Islam region, the region was introduced by Arabian merchants in 12th century. In 15th century European traders arrived their influence grew until the British East India Company gained control of Bengal following the Battle of Plassey in 1757. Era 20th century was one of greatest era for Bangladesh’s history. With Pakistan and India influenced Bengal which despreated in two zones; Western Part and Eastern Part. In western part joined with India in 1947 for majority muslims and eastern part going to Pakistan. Economic’s crisis, military damage, hard violences had built people movement became people power.

The Bengali Language Movement in 1952

The Bengali Language Movement of 1952 was the first sign of friction between the two wings of Pakistan. Dissatisfaction with the central government over economic and cultural issues continued to rise. In 1966 Sheikh Mujibur Rahman was jailed and released in 1969, through 1970 massive contact had killing up to half a million people of Est Pakistan, with poorly reponded by central goverment. The peak of movement in 1971. Liberation War into Independece War of Bangladesh. Beginning with the start of Operation Searchlight on 25 March 1971 and continuing throughout the Bangladesh War of Independence, there were widespread violations of human rights in East Pakistan (now Bangladesh) perpetrated by the Pakistan Army with support from local political and religious militias. During the war 3 million people were killed. Many of the murdered intellectuals were victims of the collaborators of Pakistan Army: Razakars, Al-Shams and Al-Badr forces, under of the instruction of the Pakistani Army.

The Pakistani Army shooting the civilian

In America, rock n’ roll musicians came together in one aim: STOP THE WAR PEACE IN BANGLADESH. The concert held to provoke the stakeholders in the country. The charity concert concist of Bob Dylan, Ravi Shankar, Leon Russell and of course George Harrison the conceptor. They played music for charity, for Bangladesh for peace freedom. The concert held in Madison Square Garden, New York 1 August 1971.

The illustrated of Concert for Bangladesh in August 1971

Only five months after the ancident the concert hit the world hardly. The stakeholders tried to stop the war and released Bengal aka Bangladesh later from Pakistan. After the war we could get one aim: How the tirans lose by people movement only nine months! And How the musician “spoken” the peace only played at their benefir. The benefir for Bangladesh for peace. The concert appointed as first concert for charity in the world before the charity concert common usual concert in milineum era culture now. It was the concert for Bangladesh which initiated by George Harrison the man who “nothingman” in Beatles at least before the concert.

The bodies of victims

Rock n’ Roll of fame. The Concert for Bangladesh

be humanity,

REALITAS: Pelayanan Standar Kesehatan

Lama sudah saya tidak mengalami pesakitan yang teramat sangat hingga seminggu lebih. Terakhir saya diserang gusi robek, gigi berlubang dan yang paling “up to date” terkena sakit tenggorakan akut (radang akut) hingga meriang dengan sakit dibagian ulu hati. Wah super komplet! Nah kalimat-kalimat selanjutnya tidak ada pretensi apapun. Promosi, atau individual interests inti hanya sekadar share, medan yang jarang sekali saya sentuh dalam public rooms. Lanjut alkisah setelah menahan betapa sakitnya efek dari “serangan-serangan” tersebut, berangkatlah saya ke rumah sakit berharap penyakit berkurang nan lekas sembuh. Ingin tahu kisahnya, berikut percakapan singkatnya. Enjoy!

1.TKP A (Rumah Sakit “Swasta” Grade AAA:bersih, pelayanan bagus, dokter komplit, biaya /Rp Rp Rp)

Dokter : “Selamat siang pak..silakan duduk”

Saya : “siang dok..ya”

Dokter : “apa keluhannya nih..”

Saya : “ini dok, gusi saya robek berdarah tambah gigi lubang..”

Dokter : “dah berapa lama ini pak..”

Saya : sekitar 5 hari dari minggu lalu dok, susah untuk minum..”

Dokter : “OK. Cek dulu yah..”

(Dokter beranjak dari singgasananya, lalu bergegas mengambil peralatan saktinya, dan langsung “beraksi”).

Singkatnya, setelah ± 70 menit diotak-atik bagian mulut saya, selesailah tugas beliau hari itu, karena tanpa disangka saya pasien terakhir. “The Lucky One”. Disesi terakhir beliau berujar:

Dokter : “Jangan makan yang pedas dulu pak..”

Saya : “Ya, makasih dok..”

Nah! Lanjut Tekape berikutnya, bisa dibilang kondisi dan tempat yang jauh berbeda. Yah grade AA mungkin ya. Nah ini kisahnya :

2. TKP B (Klinik “Swasta” Grade AA: bersih, pelayanan standar, dokter jaga, biaya Rp Rp)

Dokter : “Kenapa nih pak..”

Saya : “ini dok, tenggorakan saya sakit banget, terakhir meriang tadi pagi, ulu hati sakit..”

Dokter : “Silakan pak, baringan dulu, saya cek tensinya dan suhu badan.”

(Setelah dicek lalu dokter menuliskan gejala-gejala si pasien, ia pun langsung beranjak ke singgasananya)

Dokter : “ Begini pak, ini radang akut. Ada luka/tukak dibelakang tenggorakan satu yang besar satu lagi yang kecil, demamnya kemungkinan disebabkan dari radang ini..”

Saya : “O gitu dok. “

(Selama dokter menuliskan resep selama itupula saya memperhatikan tulisan si dokter, ANCUUURR BANGET!)

Singkat cerita, dokter menerangkan beberapa resep yang dia berikan kepada saya. Dan dipenghujung beliau berkata:

Dokter : “Semoga lekas sembuh pak..”

Saya : “makasih dok..”

Setelah menjalani proses rekondisi badan dan mental ketat. Saya mulai berpikir bahwa standar rumah sakit kita memang masih belum merata, dan yang paling menonjol dari perbedaan itu ialah segi harga. Demi kualitas harga tinggi. Begitulah pesan tersirat dari rumah sakit yang ada. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi atas dasar sumpah dokter, dan kemanusiaan. Perihal kedatangan ke klinik, itu saya lakukan karena saya perlu penanganan cepat dan hasilnya tidak mengecewakan seperti yang dipikirkan kebanyakan orang. Jadi, untuk mendapatkan kualitas bagus dengan harga yang “miring” mungkin klinik bisa jadi alternatif. Karena sesungguhnya untuk sehat tidaklah harus mahal. SEHAT ITU MAHAL kini sudah tidak berlaku! Nah mulai kini mungkin sebaiknya kita bergeser paradigma mengenai klinik. Anjuran, pilih klinik yang cukup lengkap sehingga penanganan penyakit optimal. Kalaupun mesti ke rumah sakit, keperluannya tidak lebih mengobati penyakit tertentu (poli xxx). Dan berobatlah ketika pertama sakit jangan ditunda berhari-hari! Selmat berobat!

U.F.O

Kita semua sangat familiar dengan istilah ini. UFO: Unidentified Flying Object. Ya, benda asing yg melintas diudara yg membuat penduduk bumi gegap gempita dgn segala kisahnya dibaliknya. Bulat cakram, pipih, dan misterius begitulah kira-kira pemaknaan masyarakat umum pd benda asing ini. Segala benda barang tentu mempunyai nilai historis, makna esensi, dan umur. Nah yg menarik dari UFO ini ialah ia tidak memenuhi ketiga kriteria diatas. Untuk itu perlu kita kroscek mengenai asal-usul benda ini. Berikut hasil penelurusan:

1. Sisi historis UFO (historical of UFO)

UFO atau Unidentified Flying Object, pertama kali dituturkan terbuka oleh sang taipan dari Amerika Serikat Kenneth Arnold (1947) setelah beliau “bertemu” dengan benda asing ini saat sedang dalam perjalanan dengan pesawat jet pribadinya. Jauh sebelum berujar, bangsa Romawi melalui Lulius Obsequens mengatakan hal yg sama tentang benda asing ini: “Suatu daerah Tarquinia, menjelang matahari terbenam, objek bulat, seperti globe, perisai bundar atau bulat, terbang di langit dari barat menuju timur” ujarnya. Dari kisah-kisah asal usul UFO, dapat dipahami bahwa nilai historis dari “wujud” masihlah simpang siur belumlah pasti. Tetapi manusia hidup dengan ketidakpastiaanya. Ketidakpastiaan inilah yang membuat nilai jual UFO beranjak dari obrolah pinggir jalan menjadi komoditi mewah. Diangkat dari pengalaman segelintir orang maka divisualisasikanlah pengalaman tadi kedalam roll-film, dan ia berubah menjadi barang jual. Dari beberapa kisah yang menggegap-gempitakan bumi, mungkin kisah Roswell ialah yang “mendekati” kebenaran tentang UFO ini. Roswell satu daerah dikawasan Nevada, New Mexico Amerika Serikat. Konon, didaerah inilah kejadian mendebarkan itu terjadi. Kejadian yang terjadi selepas siang hari, dengan jatuhnya beberapa bongkahan kapal terbang yang diyakini kapal asing. Bongkahan inilah yang menggegerkan warga setempat hingga Angkatan Udara Amerika Serikat pun ikut turun tangan. Peristiwa ini bisa dikatakan sebagai titik-tolak “keberadaan” UFO ditengah-tengah kita saat ini.

Foto penampakaan UFO, Roswell – Nevada, Amerika Serikat ( 4 Juli 1947).

Menurut info yang beredar, bahwa pada tanggal itu 4 Juli 1947 dalam bongkahan-bongkahan tersebut ada makhluk asing: ALIEN. Menurut warga ada sekitar 4 alien, 2 alien ditangkap, 1 alien ditembak, dan 1 alien lainnyai tewas akibat ledakan diangkasa. Keberadaan “hal lain” inilah yang menguakkan tabir bahwa angkatan tersebut meneliti keberadaan “wujud asing” ini setelah geger UFO beredar. Dari beberapa sumber didapat bahwa Amerika Serikat mengembangkan penelitian jangka panjang mengenai ini pada suatu daerah: AREA 51.

Geografis Area 51

Kembali pada sisi historis UFO itu sendiri, kita masih dihadapkan pada kisah2 dibaliknya, hingga sisi historis “wujud” ini tak tersingkap hingga kini. Perlu rasanya, penggalian pengetahuan lanjutan mengenai keberadaan “wujud” ini. Kita sebagai manusia meyakini bahwa kita tidak sendiri hidup dimuka bumi ini. Begitulah Al Qur’an kitab suci muslimin berkata. Sehingga kita lebih menggali asal-usul UFO ketimbang meributkan fenomenanya yang menurut saya fenomena gejala indimensional.

2. Esensi UFO (Essentials of UFO)

Telah disinggung diatas bahwa setiap objek pastilah memiliki nilai guna. Baik dipandang segala nilai postif ataupun negatif. UFO sendiri hingga kini masih memiliki perdebatan sengit nan panjang diantara para ahli untuk menentukan benda ini kenapa ada dimuka bumi? Untuk apa ia kesini? Apa yg ia cari? Pertanyaan-pertanyaan klise itu tampak seperti tembok raksasa yang sukar dihancurkan apalagi ditembus. Kejadiaan terakhir UFO terlihat dilangit bumi Malaysia 20 Juli 2010. Dan sebelumnya “wujud” ini sempat menghebohkan Cina sehingga melupakan perihal masalah energi mereka sejenak.

Kehadiran UFO dilangit Malaysia (20 Juli 2010)

Ditilik dari pengamatan tentang UFO dengan mata telanjang bahkan ada yg sempat mengabadikannya sebagai dokumentasi semata, terlihat bahwa wujud ini melayang-layang diatas langit biru bumi. Kembali ke pertanyaan klasik, Untuk apa ia kesini? Adakah yang ia cari? UFO lebih diyakini sebagai benda terbang dimana ia berasal dari planet luar (extra terristrial), sehingga kalau kita kaitkan ia dengan misteri Mars mungkin bisa didapat korelasinya. Mars sebagai planet terdekat bumi sekian tahun telah diteliti mengenai keadaan geografis hingga “hal-hal tersembunyi” melingkupi benda asing: ALIEN, UFO, BANGSA LAIN. Nah, keberadaan Mars yang masih menjadi tanya besar dikalangan ilmuwan astronowi hingga antropologi diyakini menjadi “asal” UFO. Konsep ini masih “setengah matang” dalam artian belumlah disepakati bersama oleh para ilmuwan. Dengan Mars yang memiliki kandungan hidrogen oksigen tinggi, dapat ditafsirkan dalam tanah planet terkandung air (H2O). Dengan ada air, diyakini adanya kehidupan. Kehidupan yang kemudian disebut “kehidupan lain”. Pada penelitian Area 51 terungkap bahwa dalam bongkahan Roswell terdapat alien, dimana alien ini selanjutnya diawetkan guna penelitian lanjutan. Jika konsep ini kita tafsirkan sebagai asal-usul UFO dan adanya “kehidupan lain” tadi maka dapat dipahami pula bahwa kedatangan mereka ke muka bumi untuk “mengenal” bumi, layaknya kita “berkunjung” ke bulan, Mars,. Bukankah kita menjelajahi daerah-daerah tersebut untuk “keperluan’ kita? Pentingnya bumi bagi alien?

3. Umur ( Lifetime)

Semua yang hidup kembali dalam bentuk hierarkinya: MATI. Semua benda, objek, wujud yang ada didunia tercipta dari ketidak-ada-an hingga menjadi ada. Sehingga dalam proses akhirnya ia akan menjadi kedalam bentuk aslinya: KETIDAKADAAN. UFO yang diterjemahkan sebagai benda melayang tak dikenal memiliki segala kisah yang menghebohkan siapa saja. Rentang masa hidup atau umur dari wujud ini belumlah diteliti lebih lanjut oleh para pakar bahkan Anggota Riset Area 51 sekalipun. Lalu, apakah ia abadi? Bukankah ia dikendalikan alien? Bagaimana dengan umur alien? Alien diyakini telah ribuan tahun sebelum masehi. Bangsa ini konon tahan akan segala guncangan dan diyakini memiliki tingkat intelegensi tinggi melebihi tingkat jenius. Mengenai tingkat kepintaran ini telah banyak disinggung oleh beberapa peneliti hingga blogger. UFO sebagai alat kendaraan para alien (bisa dikatakan begitu) sering terlihat mengunjungi bumi kita. Sejak kejadian Roswell dimana terdapat ada alien yang mati, alien pun makhluk. Ketidaktahuan kita maka menempatkan mereka bagian ‘terasing” dari kita yang sejatinya juga seorang makhluk.

Alien dalam tabung pengawetan (Area 51)

Alien termarjinalkan, “yang lain”, hingga dianggap musuh. Sebuah paradoks yang salah menurut saya, seorang sutradara kawakan Stephen Spielberg memaparkan dalam film beliau mengenai alien yag berjudul E.T : Extra Terristrial dengan memasukkan sisi humanis. Ia menuturkan bahwa kebanyakan warga Amerika Serikat takut, paranoian berlebih pada makhluk ini sehingga film ini dapat dikatakan sebagai satir film sosial –nya Spielberg. Dalam film 115 menit itu digambarkan bagaiamana ia (alien) datang kemuka bumi, apa yang dicarinya dan terjadi hingga pertemanan dengan seorang anak,… Menilik film tersebut, tersingkap bahwa sang alien tak lain sang makhluk hidup layaknya kita. Diatas telah disinggung bahwa: Setiap makhluk akan kembali kepada “wujud asal” mereka. Alien pun begitu sehingga kepunahan UFO pun merupakan hal yang absolut. Tetapi big question kapan ia akan punah belum terjawab hingga kini. Ledakan yang terjadi diperkebunan Roswell mungkin dapat dijadikan bahan tinjauan akan kepunahan “wujud asing” ini.

Film science-fiction Stephen Spielberg – E.T (1982)

Para ahli di Area 51 mungkin menyimpulkan: Kita ledakan saja mereka! Tapi sekali lagi, apakah tindakan ini paradigma ini dianggap rasional? Beretika? Apa manfaatnya? Sehingga yang dapat dilakukan mengenai permasalah kepunahan (umur) sang UFO dengan sang pilot (alien) perlu ditinjau lanjut, mengenai ini kita mungkin akan mendapatkan jawaban yang akurat, sembari tidak terjebak pada konteks: UFO datang, Phobia datang. Lebih bijak mungkin dapat kita sikapi bersama bahwa apapun yang terjadi di langit bumi Malaysia, biru-nya Cina dengan “kedatangan” UFO bahwa ia tidak menganggu, ia se-bangsa dengan kita, dan keberadaan mereka hanya sekedar “berkunjung”. Tanpa sadar suatu ketika kita kan’ berujar: Saudara jauh sedang mengunjungi kita! Menilik nilai historis, esensial, dan umur masih pantaskah ia kita sebut sebagai object?

Thinks positive!

Play. Please..!


MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com

Happy endjoy!

Old Batavia. Old Jakarta. Gudang Rempah

Sudah kita ketahui sebelumnya dari berbagai sumber bahwa bangsa yang datang ke tanah Batavia, ialah dikarenakan hasil bumi rempah-rempah yang “memikat” hati untuk itulah bangsa2 ini datang hingga “menetap” lama ditanah ini. Berbagai alasan jadi motif mereka, untuk kesehatan, perdagangan, pengawetan makanan dari hubungan jula-beli “normal” yakni sistem barter pada jaman itu berlanjut hingga hubungan jual-beli “tidak norma”. Berikut hasil dari jelajah old batavia: Gudang Rempah-Rempah bersama Komunitas Jelajah Budaya (2/06/2010). Selamat menikmati!

1. Road map old batavia.

2. Hubungan awal perdagangan dilukiskan seperti dibawah:

3. Salah satu bentuk kapal yg digunakan oleh nenek moyang kita dahulu.

4. Dan, aktivitas tersebut berlangsung padat di pelabuhan ini:

Inilah pusat perdagangan dahulu, pelabuhan yg telah mendunia sebelum berpindh ke tj.priok.

5. Salah Gudang rempah yang tersisa.

6. Gudang yang lainnya:

7. Aktifitas perdagangan berlanjut hingga penjajahan. Bangunan ini saksinya:

Gedung ini telah mengalami pendangkalan, karena jendela yg terlihat pendek-dekat permukaan jalan dahulunya merupakan bangunan yg tinggi

8. Setelah mengalami penjajah, maka batavia kini Jakarta telah perubahan masa, kulturisasi berubah cepat, dinamis. Inilah salah satu kultural jakarta:

Batavia dahulu telah dikenal dengan hasil rempah-rempah yang mampu memikat hati negeri barat dan lainnya. Produk inilah yang kemudian hari yang menjerumuskan Indonesia kemudian kedalam jurang penjajahan kelam. Dan kini, produk ini pulalah kemudian kita sebagai bangsa “bersaing” dengan bangsa lain (Cina semisal) serta pasarnya. Mengenal ol batavia sebagai gudang rempah berarti mengenal keindahan alam nusantara akan rempah-rempahnya serta pengaruhnya dalam kulturisasi epik sebuah jaman. Selamat Ulag Tahun Jakarta. Old Batavia. Old Jakarta : Gudang Rempah

fin,

James Paul McCartney..68th!

James Paul McCartney born in Allerton, Liverpool in 1942. He started learn music since he was child. He got a trumpet first than guitar, like he said :

“From a very early age i was interested in singing tunes. I like a nice tune. You know, “White Christmas”, “Over the rainbow”, the old stuff..my dad gave me a rumpet for my birthday. But my mouth used to get too sore. Suddenly realized that i wouldn’t be able to sing if i played trumpet so i figured guitar would be better “

On his career ion music he got anything and far away from boring to find something new and try something new. River Deep and Mountain High by Ike and Tina Turner enters the UK charts 1966 to reach no.3. Phil Spector retires from the US record business in protest as its flopping in States.

The Beatles Paperback Writer enters the UK charts to reach no.1 in 1966. Nature magizine published a remarkable letter in 1908, outlining the basis of the cathcode ray tube and the televison itself. In band, he’s one of the most-influence person in beatles favours like Lennon said:

“Macca is me, sometimes me is macca”

The band make their debut performaces at The Cavern Club in Liverpool in 1961. By July they had a regular Wednesday night gig and appeared there two or three times a week in addition to lunch-time sessions. Every human had every sin, like Macca with LSD, here’s he said about that stuff:

“I was asked a question by a newspaper, and the decision was whether to tell a lie or tell him the truth. I decided to tell him the truth … but I really didn’t want to say anything, you know, because if I had my way I wouldn’t have told anyone. I’m not trying to spread the word about this. But the man from the newspaper is the man from the mass medium. I’ll keep it a personal thing if he does too, you know … if he keeps it quiet. But he wanted to spread it so it’s his responsibility, you know, for spreading it, not mine”

Sometime i figure out about the song When I’m Sixty-Four, but now Macca is going to sixty-eight old man alive. As human, his couldn’t get any right in anything. Life tought us about the kindness of apology and how sweet the friendship was, like Linda said about him :

“I know that Paul was desperate to write with John again. And I know John was desperate to write. Desperate. People thought, well, he’s taking care of Sean, he’s a househusband and all that, but he wasn’t happy. He couldn’t write and it drove him crazy. And Paul could have helped him… easily”

“Macca, find another Linda out in your birthday now..”

Terserah sebut apa…

Tiba-tiba saya teringat masa-masa kuliah dahulu di tanah Unpad. Tepatnya Jatinangor! Panas, gersang dan lembab. Tapi ditanah inilah saya mengalami beribu-ribu pengalaman yg mungkin datang hanya sekali dalam sumur hidup. Mulai dari kecewa akan tempat kuliah hingga kost. God damn so hot!! Lalu kecewa akan fasilitas (khas manusia), hingga rindu akan segala kenangannya. Berikut rangkuman dari sepenggal kehidupan dari jatinangor:

1. OSPEK 2004

Setelah membayar uang kuliah yg tidak sedikit, lalu mencari kostan yg di”khlaskan”, selnajutnya OSPEK saodara2, Beuh!

“Sambutan” awal.

“Pembantaian” dimulai ! Berlangsung hingga dilantik menjadi anggota himpunan. Manstaab!

2. TATIB 2005

Kini giliran kami (fisika 2004) yg mengkebiri adik-adik 2005. Berikut kisahnya:

Cupu-cupu yah !?

Here we are!

It’s time! Bantai ’05! Hehehe..

3. OSPEK 2006. Banyak belagak ni para semprulwan-semprulwati!


4. DE-HIFI 2007

“Jahiliin” anak-anak 2007. ihihiiks!

Berlanjut:

Kayak orang gila yah..

Eits, ternyata…

HAHAHAHAHAAA!!

5. KKN Braayy!! /2008

Ngerti???!!!

Test otak, emosional, spiritual..KOMPLIT!

Lastly,

Masa anak-anak ialah masa terakhir dlm hidup kita merasa bebas..HOREEEE!!

#Inilah sepenggal memoar-memoar kehidupan di jatinangor, untuk tahun-tahun berikutnya..nantikan memoar berikutnya! :Cheers

Light comes so fast. Fastly fade away…

Lights goes by…
taken on 16 may ’09

Bandung stolen story…

Merdeka’s Building
taken on 10 Octo ’09

De photo. La belle…

Spectrums on Terrace
taken on 6th may ‘ 10

Shot for yesterday….La belles!

Muzzy Face ::
taken on 23rd april ’10

About Armada Racun…La Peste!

It’s been along time for me to write some “cratched” bout music. Here is the new album from Armada Racun..La Peste! Sounds like Camus’s novels. hehehe! But it is not such as like that pals! This is full-album from Armada Racun. The band from Jogya, but range of their music..langer than jogya was! In this album we’ll enjoying sound-sound great maybe little freaky just like sound-freaky Trent Reznor (NIN)

It caused the album was labeled post-punk-genre. For me, it’s kindda like that pals! Post-punk-industry exactly i guess. But, whatever we called the genre, the music with great lyrics is such a wonderful land for us to come in…Lastly, grab the album soon if u wanna hearing freaky-junky sounds or just a little bit’ memoriable in Trent’s world as La Peste! Endjoy!

Ketika hilangnya rasionalitas…

Rasio berarti akal. Akal berbeda-beda penafsiran, tapi satu hal yang pasti. Akal merupakan gerbang utama (main-cage) pada suatu blok yg terdiri dari bermacam-macam lingkaran labirin yang disebut otak. Dalam otak inilah terletak akal. Akal sebagian sufi menerjemahkan sebagai kemampuan alam bawah sadar manusia dalam menguasai syar’i Illahi, begitu kurang lebih tafsirannya. Bagi musisi Frank Zappa, otak merupakan organ kita yg paling menjijikan..“The worst of our body is brain”

Berangkat dari akal ini kemudian manusia menemui peradabannya. Peradabannya manusia berganti sepanjang jaman tapi satu hal yang kekal akal tadi abadi. Mind is exist Manusia suka tidak suka selalu dihadapkan pada perubahan jaman perubahan budaya perubahan peradaban perubahan pola-pikir. Kita dituntut maju sadar atau tidak! Sejarah menjelaskan bahwa manusia terkadang dapat melebihi Tuhan, tapi lagi-lagi ini merupakan peranan domina absolut akal kita.

Bagaimana kita menjalani rasio kita?

Untuk menjalankan “rasio” tadi tentu kita memperlukan kata kerja, sehingga akan melahirkan “adjective”. Mer-rasio-kan peradaban itu yang seharusnya kita jalani baik dalam kehidupan keluarga hingga negara. Dengan me-rasio-kan peradaban maka timbullah rasionalitas, daya upaya kemampuan menakar suatu kontek kehidupan berdasarkan domain rasio. Ini yng telah hilang dalam kehidupan kita, kita terlalu sibuk mengurusi urusan cetek hingga menguras perhatiaan padannya. Dalam buku Sindhunata “Dari Pulau Buru ke Venezia” tampak jelas, bahwa sisi kehidupan dimensi “lain” tergambar nyata, ini yang telah kita nafikan selama ini.

Outisider bagi Albert Camus ialah pengakuan akan ke-eksistensi-an manusia akan lingkungannya. Nah, pernah kita terpikir bahwa ibu-ibu yang mengemis dijalan, anak-anak pengamen mereka juga sama seperti kita. Ataupun orang tidak bersalah tertuduh bersalah (pak de’ semisalnya) ! Orang-orang ini terpinggirkan hingga yang terbaru Sri Mulyani, dimana letak rasio kita tadi? Menguap kemana ia? Hilang lenyap tak berwujud…

Camus menggambarkan bahwa manusia yg tertuduh, terpinggirkan hingga tidak dianggap ialah outsider baginya. Dimana, ini sebenarnya cerminan keadaan “strata class” bagi Camus. Kita bebas memilih, ingin seperti outsider atau yang lain. Bebas! Tapi satu hal yg tidak dihilangkan, rasio kita sebagai manusia! Itu yang menuntun kita kelak dalam meniti peradaban ini hingga kematian disisi nafas kehidupan datang. Manusia yang telah kehilangan rasionalitas, sama seperti binatang..mungkin tepatnya binatang berpikir (sedikit kasar-) tapi begitulah “gelar” yg diberikan seorang Pramoedya Anata Toer kepada org yg tidak membaca sastra.

Bagaimana akhirnya anti-rasio & apa selanjutnya ?

Bagi saya, ketika nilai rasionalitas itu telah menuju kelembaman tinggi. Berarti kita mati! Itulah situasi terburuk manusia. Matinya rasionalitas sama dengan halnya hilang kemampuan untuk menilik menata merangkaian menggapai cita-cita luhur peradaban yang ada. Ketika premanisme berkobar ria, hukum absolut berlaku, fitnah lebih teruji dan diakui daripada bukti, dan ketidakpercayaan melahirkan sinisme. Itulah kematian rasionalitas kita, dan tidak ada hal lain tuk berpangku-tangan selain kepada buku (membacanya). Seperti tutur Lou Reed berikut:

“Life is like Sanskrit read to a pony”

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.