Ketika mereka mati esok hari…

Bila ini hari terakhir anda dimuka bumi hidup, apa yang akan anda lakukan? Banyak sedekah? Datangi orang terkasih beri ucapan dan kecupan terakhir? Atau lebih banyak merenung, meratapi dosa-dosa selama ini? Banyak ide yang tercetus dan segera dilakukan bila itu terjadi. Tapi siapa yang sangka bila hari ini, esok, ataupun lusa “Last Day” kita. No one knows it!

Setelah berkelabat dengan kertas-kertas, pulpen dan interaksi dengan orang-orang yang baru. Baru kinilah saya menyempatkan menggoreskan kursor komputer untuk mengaktualisasikan ide-ide dikepala yang telah terbebani rutinitas padat itu. Memikirkan diri sendiri itu hampir semua manusia bisa. Tapi ketika memikirkan yang “lain” belum tentu semua bisa. Paradoks manusia.

Manusia terlahir sebgai pemimpin di muka bumi. Makhluk sosial. Begitu penjelasaan dalam kitab-kitab suci dan buku-buku semasa “era putih abu-abu”. Realitas bicara tidak seperti itu demikian halnya, bahwa kita serignkali meminggirkan bahkan melupakan “yang lain” tadi. Kadangkala kita asik sendiri menimbun kekayaan hingga bermasygul ria dengan “dunia” kita. Pemakaian “yang lain” disini untuk membedakan diri kita (umunya) dengan diluar kita (yang lain). Saya  mengambil beberapa perspektif  untuk menarik benang merahnya.

1. Bencana

Memang betul semua bencana yang terjadi berasal dari luar akal kita. Beberapa menafsirkan itu “kehendak” Tuhan. Biarkan Tuhan bekerja dgn cara-Nya kita coba mempelajari. Bukankah tugas utama manusia belajar?

Penggundulan hutan, pengeboran minyak lepas pantai besar-besaran. Sebagian dari beberapa asal musabab tejadi bncana yang terakhir Tsunami Jepang, lebih dr 8 SR. Nah! kita berlomba-lomba menjadi yang terbaik, apakah kita sadar bahwa bila “mereka” mati esok apa dampak untuk kita.

Tentu tak pernah terpikirkan ketika nafsu sudah didepan logika. Kemudian gembar gembor Global Warming, sudahkan kita ambil tindakan nyata? Kalau belum jangan sok action lah!  Kampanye Earth Hour kemarin bagus untuk mengkampanyekan penghematan energi itu pesan moralnya. Alangkah lebih baik dan bijaknya bila tiap hari tanpa Earth Hour kita tetap hemat energi. Tentu lebih berguna bagi anak cucu yang akan datang. Bayangkan bila energi tiba-tiba mati. Gelap dunia!

2. Perang

Mortir melesat kencang bak petir. Peluru ditebar dimuka bumi dengan angkuh. Gas beracun menari  seakan mengejek manusia yang lemah.  Perang terjadi dengan beberapa sebab dan yang paling dominan  ialah senjata! Yup dengan senjata lah perang makin dikibarkan. Akhir-akhir ini mata sakit melihat televisi.  Berita perang melulu! Bosan. Terakhir saya melihat berita perang Irak. Kini disuguhi Perang Libya. Apa yang dicari dari perang? Kemenangan semu. Kemenangan yang tidak kekal, hanya sementara. Lihatlah Uni Soviet yang harus merelakan tanah-tanah jajahan tidak “sepaket” lagi dengan mereka. Lihatlah perang Vietnam, sisakan trauma dalam. Afghanistan tak berkesudahan bak kisah dalam dongeng. Irak tidak berkesan lagi. Terakhir Libya, ada yang menganggap “perang suci” bagaimana bisa dikatakan perang suci bila anak-anak, orangtua renta, para wanita jadi korban perang tadi? Pihak lain menganggap inilah saatnya “dia” turun!  Bagaimana bisa ide perseorangan bahkan sekelompok umat dijadikan rujukan ide seluruh umat manusia dimuka bumi? Penyeragaman pendapat. Hal yang ditentang oleh post-modernisme tentunya.

Pernah kah terbayang oleh para jenderal-jenderal itu bila yang mereka kejar itu hanyalah semu semata. Tak ada kemenangan abadi dalamnya. Siapa yang akan menafkahi bila wanita-wanita itu kehilangan suami mereka? Siapa yang akan merawat hingga dewasa bayi-bayi itu saat orangtua mereka terbujur kaku disamping mereka? Siapa yang akan mengganti semua infrastruktur bahkan siapa yang sanggup merehabilitas jiwa mereka yang tersakiti oleh perang keji tersebut? Nafsu diatas logika. Megalomaniac.

3.  Televisi

“Telah pepat imajinasi dalam kotak 14 inchi…” [Mars Penyembah Berhala - Melancholic Bitch]

Ya, elektronik satu ini semacam dualisme fungsional. Satu sisi penyebar informasi yang komunikatif. Satu sisi sebagai penyebar virus massal.  Melalaui kotak 14 inchi ini kita dapat melihat, mengamati belahan dunia lain dari tempat kita berada kini. Tapi kotak ini juga kita dibentuk menjadi “robot” ya robot yang hanya menjalankan rutinitas sehari-hari kemudian tanpa sadar kita telah termakan waktu yang kejam tanpa bekas hidup yang berarti. Logika mati. Rasa mati. Hidup pun mati.Yup, ia mematikan imajinasi kita.

Manusia hidup lewat imajinasi, dengan itulah kita meraih apa yang diimpikan. Teraktualisasikan dalam “passionate” ktia berkarya untuk meraih mimpi tersebut.  “Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi” begitu salah petikan lirik yang saya dengar. Inspiratif tentunya. Nah bila televisi tadi telah mengambil jiwa kita, logika kita apa kita masih pantas disebut manusia? Bila kita dengan seenaknya mengancam, mengkebiri  bahkan mematikan hidup sesorang persis yang diajarkan televisi, dimana esensi manusia nya?Ketika televisi berhasil merebut singgasana terbesar manusia yakni logika, ia sesungguhnya sedang mentransformasi logika menjadi nafsu. Logika mati. Nafsu lahir. Berakhirlah era manusia.

Tiga plot perspektif diatas berbicara tentang alam, manusia, hingga logika. Ya dalam keadaan nyaman, nikmat, senantiasa kita lupa terhadap ketiga hal pokok ini.  Bila terjadi dampak dari kematian ini barulah kita kasak kusuk busuk nan kosong. Retorika tanpa aksi nyata. Tsunami Jepang hingga Kampanye Global Warming sejatinya makin menyadarkan kita bahwa kita tidak hidup sendiri dimuka bumi ini, masih ada “yang lain”. Sepatutnya lah kita berbagi ruang dengan “mereka”.  Saat nafsu dalam barisan terdepan logika terpinggirkan itulah yang terjadi dalam dunia peperangan. Tiada rasa disana.  Tebar kekuatan semu. Vietnam hingga Irak seharusnya menjadi contoh bahwa perang bukanlah solusi terbaik dalam menyelesaikan sengketa, hingga paling update Libya. Tidakkah kita cukup melihat anak – anak tumbuh tanpa orangtua, para wanita yang depresi meratapi kematian suami mereka. Posisikan itu saudara kita,adik kita, bahkan bila itu bagian terdekat dalam hidup kita. Tentu tak pernah terjadi perang. Penyeragan informasi, penyeragaman sikap, penyeragaman logika merupakan visi utama dari kenegatifan televisi. Ia mematikan logika. Memandulkan imajinasi.  Manusia tidak mengenal hitam-putih, gunung, laut bahkan diri mereka sendiri. Hilang jati diri. Itulah misi paling faktual dari televisi. Filterisasi program televisi merupakan tindakan yang efektif untuk mengurangi efek gas beracun massal ini.

Sebelum  terlambat marilah kita kencangkan niat dalam sanubari bahwa kita manusia sejatinya makhluk berakal yang memiliki rasa dengan imajinasi tak terbatas. Bak jalan panjang dengan pemandangan terhampar luas  tiada batas. Karena bila tidak, jangan pernah bermimpi esok hari…

Danko,

:)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.